6
1536

Asep S. Suryaningrat, Mantan Office Boy Ini Siap Bertarung Di Jepang

GILAMOTOR.com – Apa yang dikerjakan sekarang akan menentukan apa yang akan dipetik di masa datang. Kalimat itu sepertinya tepat untuk menggambarkan perjalanan karir jawara Indonesia Technician Grand Prix [ITGP] 2014, Asep Sumpena Suryaningrat.

Lelaki lulusan salah satu SMU di Bandung ini mengawali karir di dealer Yamaha JG Motor Bandung sebagai Office Boy [OB]. Keinginan kuat untuk belajar dan bekerja setulus hati, mengantarkan mantan Office Boy ini membawa nama Indonesia menuju kompetisi teknisi tingkat dunia di Jepang.

Asep mengaku tak pernah membayangkan akan membawa nama Indonesia ke Jepang untuk bertarung melawan teknisi terbaik Yamaha dari berbagai negara, mengingat karirnya dimulai sebagai seorang OB. “Jujur, saya tak pernah berharap lebih kepada Yamaha. Termasuk setelah saya menjadi juara ITGP ini. Dari dulu saya cuma mengabdikan diri saya di sini [dealer Yamaha] dan bekerja dengan sepenuh hati,” ucap Asep.

“Saya tak pernah mengharap akan dapat jabatan lebih tinggi. Tapi karena saya suka dengan pekerjaan ini dan saya suka dengan teknik, jadi saya hanya bekerja sepenuh hati saya, di sinilah hidup saya dan inilah pekerjaan saya,” tegas Asep bangga.

Karir Asep di dealer JG Motor Bandung dimulai pada tahun 2006 setelah dia mengundurkan diri dari pekerjaan sebelumnya sebagai buruh pabrik. “Setelah lulus SMA saya bekerja di pabrik tekstil. Cuma 3 bulan saja, habis itu saya keluar karena nggak betah. Lalu pada 2006 saya kerja di JG Motor Cibereum jadi office boy. 3 bulan jadi office boy di JG Motor Cibereum saya dipindahkan ke JG Motor Bandung,” cerita Asep.

Dipindahkan ke JG Motor Bandung, Asep makin kerasan menjalani profesinya sebagai OB. Bukan lantaran dia suka bekerja sebagai OB, tapi karena dia semakin dekat dengan pekerjaan yang memang ia sukai yaitu di bidang teknik motor.

“Selama 2 tahun jadi OB, dan selama itu pula saya punya kesempatan belajar teknik sepeda motor. Tiap hari libur pada Sabtu dan Minggu, saya selalu masuk dan datang ke bengkel. Saya coba-coba apa saja soal perbaikan motor. Saya ingin bisa,” cetusnya.

“Saya belajar banyak dari teknisi dan Service Advisor [SA] di bengkel tiap hari Sabtu dan Minggu. Awalnya dikasih kerjaan membersihkan oli yang berceceran di lantai dan menyapu sampah di bengkel. Setelah dua minggu berjalan saya dipercaya untuk melakukan penggantian oli. Secara bertahap saya diajarkan soal teknisi motor hingga akhirnya saya dipercaya untuk melakukan service motor.”

Seiring berjalannya waktu, Asep semakin menikmati pekerjaan sebagai teknisi “gelap” yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Hingga suatu ketika, aksinya diketahui atasannya. Jelas ada rasa takut dan rasa bersalah. Bagaimana pun, ia harus menerima segala resiko atas apa yang sudah ia kerjakan.

Pada akhirnya, Asep pun harus menggantung sapu dan kain pel yang selama 2 tahun menemani hari-harinya di JG Motor Bandung.

“Saya sempat ketakutan karena ketahuan atasan. Tapi saat ketahuan oleh atasan, saya malah dijadikan teknisi. Alhamdulillah,” kenangnya.

Setelah 3 tahun jadi teknisi, Asep ikut ambil bagian dalam kontes teknisi tingkat regional Jawa Barat pada 2011 dan berhasil merebut gelar juara pertama. Karir lelaki jebolan IPA di SMU Indonesia Raya di Pasteur ini semakin baik, dia diangkat sebagai Service Advisor.

Kini, mantan OB itu akan mewakili Yamaha Indonesia bertarung di kompetisi teknisi tingkat dunia di Jepang melawan teknisi terbaik dari belahan dunia lainnya.

Yamaha Indonesia telah menentukan jawara Indonesia Technician Grand Prix [ITGP] 2014 pada 19 Agustus kemarin di Sentul, Bogor. Asep Sumpena Suryaningrat, teknisi dari dealer JG Motor Bandung ini berhasil menyingkirkan 12.000 teknisi Yamaha lainnya. Lelaki yang sudah 8 tahun mengabdi di JG Motor kini tengah mempersiapkan diri untuk bertarung di World Technician Grand Prix [WTGP] di Jepang pada akhir September mendatang bersama Irvan Kurniady, juara ITGP 2012.

“Persiapan yang saya lakukan adalah terus latihan, mulai dari soal teori, pengukuran hingga trouble shooting. Dan persiapan yang paling penting adalah mental dan doa,” pungkas Asep.

Selamat Bertarung, bro..!!

Teks: Jayadi | Foto: Jayadi

6 COMMENTS

  1. Menarik…

    Pelajaran yang bisa dipetik dari kisah ini adalah belajar dan bekerja sepenuh hati.

    Apapun pekerjaannya jika dilakukan dengan sepenuh hati, hasilnya akan jauh lebih baik.

  2. I though you fogret about the name of the dishes.. well the meat dumpling like chinese wonton they called xing kali this is meanced beef mix with pork and spicy and strong coreander leave flavour..this is very tasty but for me I have to chose only beef king kali because not allowed to eat pork. and than the bread like italian pitzza is Kachapuri this is bread dough filling with local home made chese , they called Immeruly chhese mix with egg and they didn’t fried this bred but then bake like pizza,but after cooked they put alot of butter on the top..that is why seem like deep fried..