Photo: Gilamotor.com/Gojay
0
990

Laporan Mudik Kita : Habiskan Malam Di Yogyakarta

GILAMOTOR.com – Angkringan jadi salah satu tempat nongkrong populer di Yogyakarta. Meski sudah bukan hal baru, tapi menikmati makanan dan minuman di kedai angkringan mampu memberikan nuansa tersendiri, khususnya bagi kami tim #LaporanMudikKita yang sempat singgah di kota itu.

Selepas adzan Isya, kami meninggalkan hotel tempat kami bermalam untuk berkeliling menggunakan skuitk Yamaha Mio M3 125. Memasuki Jl. Malioboro, sepontan saya bersenandung lagu lawas milik group band Kla Project, Yogyakarta.

Seperti tak pernah berubah, Jl. Malioboro selalu ramai pengunjung hingga memenuhi ruas jalan raya di depan pasar Beringharjo. Meski kami tak berniat belanja dan tak ada tujuan khusus di jalan yang diambil dari kata Marlborough itu, menuju Malioboro seperti sebuah ritual wajib saat berkunjung ke Yogyakarta.

Lepas dari Malioboro, kami melanjutkan perjalan ke alun-alun Kraton Yogyakarta. Sambil melihat megahnya bangunan bersejarah yang sedang direnovasi itu, kami berjalan kaki sejenak untuk melihat lebih dekat para penjajak makan dan minuman khas Yogyakarta.

Usai berjalan sejenak di tengah hembusan angin malam yang menggoyangkan dedaunan pohon di depan kraton, kami kembali melanjutkan perjalanan malam menuju sebuah tempat yang juga jadi tempat wisata para pelancong.

Kami pun tiba di sebuah lokasi di dekat salah satu bangunan paling ikonik, yakni Tugu Yogyakarta. Terdapat beberapa penjajak makanan dan minuman dengan grobak di tempat itu.

Sambil duduk lesehan, seporsi nasi kucing disambung dengan secangkir kopi joss dan secangkir wedang uwuh, menghangatkan kami di tengah hiruk-pikuk lalu lintas persimpangan jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Margo Utomo itu.

Tak banyak yang kami lakukan di tempat itu, hanya duduk dan bercengkrama dengan teman-teman komunitas Gilamotor wilayah Yogyakarta dan menyaksikan para wisatawan dan muda-mudi berfose di depan tugu berwarna putih itu.

Dari Wikipedia, Tugu Yogyakarta adalah sebuah tugu atau monumen yang sering dipakai sebagai simbol atau lambang dari kota Yogyakarta. Tugu ini dibangun oleh Hamengkubuwana I, pendiri kraton Yogyakarta. Tugu ini mempunyai nilai simbolis dan merupakan garis yang bersifat magis menghubungkan laut selatan, kraton Jogja dan gunung Merapi. Pada saat melakukan meditasi, konon Sultan Yogyakarta pada waktu itu menggunakan tugu ini sebagai patokan arah menghadap puncak gunung Merapi.

Saking nikmatnya bercengkrama sambil menyantap makanan dan minuman khas Yogyakarta, kami tak sadar jam sudah menunjukkan waktu untuk santap sahur. Kami pun berpisah dengan teman-teman komunitas dan kembali ke Hotel untuk beristirahat sebelemum melanjutkan perjalan ke Bandung melalui jalur Selatan.